
Kisah Abraham menggambarkan seorang yang berjalan bersama Allah, oleh
Iman dan ketaatannya, Abraham dikenal sebagai Sahabat Allah dan bapa
segala bangsa. Awalnya, Abraham bukan orang yang sempurna, seorang yang
tidak berani mengambil keputusan, seorang yang menghindar dari masalah
dan mencari aman untuk dirinya sendiri.
Abraham menjadi ‘manusia Allah’ melalui proses pemisahan-pemisahan
dalam hidupnya. Setiap kali Abraham mengalami pemisahan, saya mengerti
bahwa ia mengalami rasa sakit dan terluka yang amat dalam. Tetapi justru
melalui pemisahan-pemisahan itu, Allah membawa Abraham naik ke level
yang lebih tinggi untuk mendapat “berkat yang lebih besar.
Apakah Anda pernah mengalami pemisahan? Dipisahkan oleh seseorang yang
sangat Anda cintai? Dipisahkan dari sesuatu yang menjadi andalan dan
harapan Anda selama ini? Apabila kita tetap mempercayai dan mentaati
Tuhan, maka kita akan melihat pemisahan merupakan bagian dari proses
yang dizinkan Tuhan supaya kita bisa memasuki level kehidupan yang lebih
tinggi (entering the next level).
Berikut kita akan belajar prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan dari kisah Abraham ini:
Pertama, Abraham dipisahkan dari Terah, bapanya [Kisah 7:1-3]
Apabila kita melihat dari Kisah 7:1-3 sesungguhnya Allah hanya
berbicara kepada Abraham untuk keluar dari negerinya menuju sebuah tanah
perjanjian, tetapi nyatanya yang membawa Abraham keluar justru Terah,
bapanya [Kejadian 11:31-32].
Abraham telah menyalahi perintah Tuhan. Allah berfirman kepada
Abraham,”Engkau harus pergi sendiri.” Tetapi nyatanya Terah yang
membawanya pergi keluar dari Ur-Kasdim, negerinya itu. Apakah akibatnya?
Abraham hanya tinggal menetap di Haran, ia tidak pernah tiba di tanah
perjanjian. Mengapa? Karena Terah, bapanya tidak berminat untuk bergerak
maju dan melangkah menuju tanah perjanjian.
Abraham mendapat banyak harta kekayaan di Haran tetapi Allah tidak
ingin Abraham berhenti sampai di sana. Allah menghendaki Abraham
bergerak maju sampai tanah perjanjian. Di sanalah Abraham akan
mendapatkan kepenuhan janji dan berkat Allah.
Terah berarti delay atau penundaan. Allah harus memisahkan Abraham dari
Terah, karena selama ini Abraham sangat bergantung kepada Terah. Allah
ingin Abraham dapat belajar bergantung hanya kepada Dia dan melihat
Allah sebagai “Sumber Kehidupannya.”
Berapa banyak orang Kristen yang telah menerima perintah Tuhan dalam
hidupnya dan tidak pernah berani bergerak dan melangkah maju? Apabila
kita dipisah dari seseorang atau sesuatu yang selama ini menjadi andalan
dan sumber dari hidup kita hal itu memang sangat sulit dan berat. Namun
kabar baiknya adalah setiap kali proses pemisahan terjadi, Tuhan selalu
mencurahkan berkat dan kemenangan apabila kita tidak menjadi kecewa dan
mundur,
Kedua, Abraham harus dipisahkan dari Lot, keponakannya [Kejadian 13:1-11]
Perpisahan Abraham dengan Lot, oleh karena harta mereka terlalu banyak
sehingga negeri itu tidak cukup lagi menampung kekayaan mereka. Abraham
memberikan kesempatan Lot untuk memilih tanah baginya, Lot memilih tanah
yang terbaik yaitu Sodom dan Gomora, sebuah lokasi bisnis yang
nampaknya memiliki prospek cerah namun lingkungan penduduknya tidak
bermoral dan jahat di mata Tuhan.
Abraham hanya mendapat sisa tanah yang kering dan tandus, tanah yang
tidak cocok untuk bisnis peternakannya ini. Secara kasat mata nampaknya
Abraham akan mengalami kebangkrutan, ternaknya akan sulit mendapat
rumput dan air yang jernih…
Apakah Anda pernah mengalami hal sama? Anda berpisah dengan Lot? Anda
harus keluar dari bisnis atau pekerjaan yang telah Anda bangun selama
ini? Rekan bisnis atau keluarga Anda mengambil bagian yang terbaik lalu
Anda hanya menerima sisanya saja? Apakah Anda tiba-tiba kehilangan
pekerjaan atau dipaksa untuk mundur? Apakah Anda sedang diperlakukan
tidak adil?
Nama Lot artinya Veil atau selubung, sesuatu yang menghalangi atau
menutupi pandangan sehingga gagal melihat kenyataan yang sebenarnya.
Abraham harus dipisah dari Lot agar Abraham mampu melihat
perkara-perkara rohani yang mulia dan berharga. Allah ingin mengajar
Abraham bahwa perkara-perkara jasmani dan materi selalu ditopang oleh
perkara-perkara rohani.
Sekalipun, Abraham mendapat tanah tandus, usahanya terancam gulung
tikar, tetapi Allah berjanji bahwa Allah akan memberikan sebuah tanah
air yang jauh lebih baik, tanah yang tandus itu akan diubahnya menjadi
tanah yang penuh susu dan madunya. Tanah itu akan menjadi milik pusaka
anak cucunya untuk selama-lamanya [Kejadian 13:14-16]
Proses pemisahan Abraham dari Lot menggambarkan sebuah peristiwa
dimana tidak semua masalah yang kita hadapi, atau setiap perlakukan
tidak adil yang menimpa hidup kita akan dapat menghancurkan hidup kita;
pekerjaan, bisnis kita atau masa depan kita.
Saat Anda diperlakukan tidak adil, belajarlah lewat kisah Abraham.
Tuhan memang izinkan proses pemisahan supaya kita tidak selalu
menggunakan kekuatan sendiri melalui apa yang dapat dilihat mata atau
didengar telinga yang nampaknya baik dan menguntungkan. Tuhan mau
mengajar kita melihat dengan mata hati yang terang untuk melihat janji
Allah dalam hidup ini.
Ketiga, Abraham dipisahkan dari Hagar dan Ismail [Kejadian 21:8-12]
Proses pemisahan Abraham dengan Hagar dan Ismail menyangkut proses
harga diri dan perasaannya. Allah tidak menghendaki kita menggunakan
cara-cara kita sendiri. Tuhan mau agar kita melibatkan Dia dalam setiap
langkah kehidupan kita.
Ingat, setiap proses pemisahan selalu diikuti oleh berkat dan
kemurahan Tuhan yang lebih besar sehingga kita sanggup menanggungnya dan
keluar sebagai pemenang.
Dalam proses pemisahan ini, Allah pun berfirman kepada Abraham bahwa
Allah menjamin keturunan Ismail akan menjadi suatu bangsa yang besar dan
terbukti hingga hari ini, mereka termasuk orang-orang yang kaya karena
Tuhan memberkati mereka dengan minyak bumi yang berlimpah.
Pesan melalui pemisahan Abraham dengan Hagar dan Ismail adalah apabila
kita merelakan kekuatan diri kita dipotong bahkan diremukkan-Nya
janganlah menjadi kecewa, justru dalam kelemahan itulah kuasa Allah
menjadi sempurna dalam hidup kita. Allah menjamin bahwa Dia akan
memelihara dan memberkati hidup kita.
Keempat, Abraham dipisahkan dari Ishak, anaknya [Kejadian 22:1-2]
Allah mengerti bahwa Abraham sangat mencintai Ishak, anaknya yang
tunggal itu. Maka Allah berfirman kepada Abraham,”Ishak, anak yang
engkau kasihi, yang hatimu mulai melekat kepadanya, sekarang
persembahkanlah dia kepada-Ku.”
Saya yakin bahwa proses pemisahan Abraham dari Ishak adalah proses
pemisahan yang terberat dalam hidupnya. Ishak adalah seorang anak yang
sangat dinantikan dan dicintai. Ishak diharapkan akan meneruskan
keturunan bagi Abraham kelak. Namun apa yang telah Tuhan berikan, Tuhan
sendiri yang memerintahkannya untuk “menghilangkan” Ishak itu dari
hidupnya.
Pernahkah Anda mengalami hal yang sama? Tuhan yang telah memberikan
perasaan khusus lalu Tuhan sendiri memerintahkan untuk menghapus
perasaan itu demi Dia, ini sesuatu yang paling berat karena menyangkut
seorang pribadi yang telah melekat di hati kita…
Mengapa Tuhan seolah-olah tega melakukan hal itu kepada kita? Hal ini
mengajar kita bagaimana rasanya jatuh cinta dan melekatkan hati kita
kepada Tuhan. Tuhan ingin menjadi yang utama dan segalanya dalam hidup
kita. Tidak boleh ada seseorang atau sesuatu yang lain kecuali Dia saja.
Apa yang bisa memikat hati kita agar semuanya itu dipersembahkan
kepada-Nya supaya kita tidak menaruh pengharapan kepada sesuatu yang
sementara tetapi hanya kepada Tuhan Yesus yang Kekal dan Setia.
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya
pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang
merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami
datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau yang tidak kuatir dalam
tahun kering dan yang tidak berhenti menghasilkan buahnya.” [Yeremia
17:7-8]
|